Dalam satu sesi pelajaran Bahasa Indonesia, siswa-siswi Sekolah Indonesia Mekkah diminta menulis surat pendek kepada Indonesia. Tidak ada penilaian, tidak ada syarat. Yang terkumpul adalah deretan surat yang membuat para mahasiswa KKN Annuqayah terdiam - dan beberapa di antaranya menangis.
MEKKAH AL-MUKARRAMAH, September 2026
Sesi itu dimulai seperti pelajaran biasa. Mahasiswa KKN Internasional Universitas Annuqayah yang bertugas di kelas meminta setiap siswa mengambil selembar kertas kosong. Instruksinya sederhana: tulis surat pendek kepada Indonesia. Boleh tentang rindu, tentang harapan, tentang apa saja yang ingin mereka katakan. Tidak dinilai, tidak dikumpulkan ke guru, tidak perlu menggunakan bahasa yang formal.
Kelas berubah sunyi. Selama empat puluh lima menit, satu-satunya suara yang terdengar adalah suara pena bergerak di atas kertas.
"Jujur, kami tidak menduga suasananya akan seperti itu. Biasanya kelas itu ramai, anak-anak aktif dan banyak bicara. Tapi begitu kami bilang 'tulis surat untuk Indonesia', mereka langsung serius. Seperti ada sesuatu yang selama ini tersimpan dan akhirnya ada ruangnya untuk dikeluarkan." kata Andrianto, Ketua Posko KKN Internasional Universitas Annuqayah di SIM
Program K-6 - Surat untuk Indonesia - adalah salah satu dari sebelas program kerja KKN Internasional Universitas Annuqayah yang dirancang sebagai kegiatan satu kali namun berdampak dalam. Berbeda dari program harian seperti Satu Menit Indonesia atau Lagu Daerah Sebelum Pulang, program ini memberi ruang kepada siswa untuk mengekspresikan perasaan mereka tentang identitas kebangsaan secara lebih personal dan reflektif.
Beberapa surat dibacakan di depan kelas dengan izin penulisnya. Ada yang menceritakan bagaimana ia rindu mencium bau sawah yang tidak pernah ia cium sendiri - hanya pernah didengar dari cerita ayahnya. Ada yang menulis tentang mimpinya kuliah di Jakarta suatu hari nanti. Ada yang hanya menulis tiga kata: 'Aku orang Indonesia'. Pendek, tapi menurut mahasiswa yang membacakannya, tiga kata itu justru yang paling berat diucapkan.
"Surat-surat ini adalah data kualitatif paling jujur yang bisa kami kumpulkan dari program ini. Bukan karena isinya untuk penelitian, tapi karena ia lahir dari tempat yang paling tulus - dari anak-anak yang bahkan belum pernah menginjak tanah yang mereka rindukan. Itu sesuatu yang tidak akan muncul dari angket mana pun." ungkap Dr. Rosidi Bahri, S.Pd., M.Ag.
Surat-surat terpilih - dengan izin tertulis dari siswa dan orang tua - kemudian dipamerkan dalam Gelar Karya Siswa yang digelar pada 1 September 2026. Di antara karya gambar, prakarya, dan puisi, surat-surat itu digantung di dinding aula dan menjadi salah satu yang paling banyak dibaca oleh warga sekolah yang hadir.
Sesi penulisan surat ini sekaligus menjadi momen evaluasi tidak langsung bagi tim mahasiswa. Melalui isi surat, mereka bisa membaca sejauh mana program-program kebangsaan yang sudah berjalan - Satu Menit Indonesia, Peta Indonesia di Dinding, Lagu Daerah, Galeri Tokoh - berhasil menyentuh lapisan paling dalam dari kesadaran siswa tentang identitas mereka sebagai Warga Negara Indonesia.
"Kami evaluasi setiap minggu bersama Pak Rosidi. Salah satu yang selalu kami tanyakan adalah: apakah program kami menyentuh, atau hanya melintas? Surat-surat itu menjawab pertanyaan itu lebih jelas dari data apapun yang bisa kami kumpulkan." tambah Andrianto, Ketua Posko KKN Internasional Universitas Annuqayah di SIM.
Evaluasi mingguan bersama DPL memang menjadi tulang punggung pelaksanaan KKN ini. Setiap Sabtu, seluruh tim mahasiswa berkumpul untuk melaporkan perkembangan program masing-masing: berapa kelas yang konsisten menjalankan Baca 15 Menit, berapa edisi mading yang sudah terbit, berapa lagu daerah yang sudah dikuasai siswa, apakah OSIS sudah bisa menjalankan program secara mandiri. Dari hasil evaluasi itulah rencana minggu berikutnya disusun.
"Saya selalu katakan kepada mahasiswa: program yang baik bukan yang paling besar, tapi yang paling jujur pada kondisi nyata. Di SIM ini, waktunya terbatas, akses ke semua kelas terbatas, jumlah mahasiswanya terbatas. Tapi justru dalam keterbatasan itu kreativitas muncul - mereka libatkan OSIS, mereka masuk ke dalam jadwal yang sudah ada, mereka tidak memaksakan model KKN dari kampus ke kondisi lapangan yang berbeda. Saya bangga dengan pendekatan ini." tambah Dr. Rosidi Bahri, S.Pd., M.Ag.
Pada 5 September 2026, seluruh program akan mencapai puncaknya dalam Hari Indonesia - sebuah perayaan identitas nusantara di tanah suci Mekkah. Penampilan Banjari, tari daerah, pembacaan puisi, bazar makanan nusantara, dan satu persatu lagu yang telah dinyanyikan tiga menit sebelum pulang selama empat minggu terakhir akan hadir dalam satu panggung.
Setelah itu, pada 8 September, seluruh warisan program akan diserahkan secara resmi kepada pihak SIM: pojok baca dengan koleksi buku barunya, template RPPH untuk guru TK, panduan tertulis bagi OSIS untuk melanjutkan buletin dinding dan perpustakaan berjalan, arsip enam belas profil tokoh Indonesia untuk Galeri Tokoh, dan panduan cerita lagu daerah untuk guru olahraga.
"Kami hanya di sini satu bulan. Tapi kami ingin meninggalkan sesuatu yang bisa berjalan tanpa kami. Itu ukuran keberhasilan kami: bukan apa yang kami kerjakan selama di sini, tapi apa yang tetap berjalan setelah kami pulang." tambah Andrianto.
KKN Internasional Universitas Annuqayah di Sekolah Indonesia Mekkah 2026 akan berakhir pada 13 September 2026, ketika sebelas mahasiswa dan satu dosen pembimbing lapangan kembali ke Sumenep - membawa data, membawa cerita, dan membawa serta kenangan dari tanah suci yang tidak akan mudah terlupakan.
Abdul Warits (Humas)