Pamekasan, UA Media– Dalam rangka mitigasi risiko kehilangan warisan dokumenter (documentary heritage) Islam Nusantara yang kian rentan mengalami degradasi fisik, Universitas Annuqayah melaksanakan proyek lapangan berbasis filologi dan preservasi manuskrip.
Kegiatan akademik ini berfokus pada pendataan, identifikasi, dan penyelamatan fisik naskah-naskah kuno keislaman koleksi pribadi masyarakat di dua wilayah lokus, yakni Kabupaten Pamekasan dan Sumenep selama 2 hari berturut-turut.
Pada Rabu (08/07/2026), tim memfokuskan rekonstruksi data di lokus pertama, yaitu kediaman pribadi Kiai Amir Muhammad Ali di Dusun Genteng, Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, Pamekasan. Selanjutnya, pada Kamis (09/07), ekspedisi filologis bergeser ke lokus kedua di kediaman Mas Royhan Iqbal, Desa Lembung Barat, Kecamatan Lenteng, Sumenep.
Penyelamatan manuskrip keislaman di wilayah Madura selama ini dihadapkan pada tantangan sosiologis yang cukup kompleks. Mayoritas naskah berstatus sebagai milik pribadi yang diwariskan turun-temurun antar-generasi dalam lingkungan keluarga. Sayangnya, terdapat kesenjangan yang lebar antara kepemilikan naskah dengan metodologi perawatan fisik preservas. Hambatan internal seperti faktor kelembapan udara khas tropis, serangan serangga, jamur, serta minimnya pengetahuan teknis pemilik, menjadi faktor utama percepatan kerusakan materiil naskah kuno tersebut.
“Urgensi kegiatan yang diinisiasi oleh Universitas Annuqayah ini tidak hanya menyasar pada aspek teknis pernaskahan seperti digitalisasi, melainkan juga pada restrukturisasi paradigma sosiologis masyarakat. Tim peneliti menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif agar masyarakat tidak sekadar mengkeramatkan naskah sebagai jimat fisik yang tabu untuk dibuka. Sebaliknya, masyarakat diajak untuk memahaminya sebagai artefak pengetahuan bernilai tinggi yang harus terbuka untuk dibaca, dikaji, dan dipelajari kandungannya,” kata Nuris, Kepala Pusat Studi dan Naskah Pesantren.
Proyek riset lapangan ini secara strategis mengintegrasikan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Annuqayah yang telah menempuh kodifikasi keilmuan filologi dan kodikologi. Keterlibatan mahasiswa dalam ekspedisi ini dirancang sebagai bentuk akselerasi inventarisasi naskah di tengah masyarakat yang wilayah geografisnya sangat luas dan sulit dijangkau oleh tim ahli konvensional.
Selama berada di lokus peninggalan, mahasiswa dituntut memiliki ketahanan riset dan daya tanggap yang tinggi terhadap dinamika preservasi di lapangan—mulai dari cara memegang kertas kuno yang rapuh hingga teknik pencahayaan saat proses digitalisasi. Secara epistemologis, mahasiswa diproyeksikan tidak hanya bertindak sebagai enumerator atau pengumpul data mentah saja. Mereka dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan yang kelak memegang estafet edukasi dan menjadi penyambung informasi ilmiah mengenai pentingnya literasi sejarah pernaskahan di tengah-tengah masyarakat sipil.
Di bawah supervisi ketat Pusat Studi Aswaja dan Naskah Pesantren Universitas Annuqayah, tim peneliti lapangan berhasil mengidentifikasi 11 naskah kuno krusial di wilayah Pasean dan 8 naskah kuno di wilayah Lenteng. Korpus naskah di wilayah Pasean memiliki signifikansi historis yang mendalam karena teridentifikasi sebagai peninggalan yang berkaitan langsung dengan Bujuk Tapa Genteng Pasean, seorang figur ulama kharismatik yang sangat dihormati masyarakat setempat karena kedalaman spiritualnya. Sementara itu, korpus naskah yang ditemukan di Lenteng memiliki keterkaitan historis dengan figur Bhujuk Saghara Lembung Timur*l.
Berdasarkan analisis tekstual dan kodikologis awal, temuan manuskrip ini mencakup klaster keilmuan yang sangat variatif dan menggambarkan kurikulum pendidikan Islam masa lalu, antara lain:
Klaster Teologi dan Aqidah: Tim menemukan teks-teks penting seperti Matan Al-Sanusi, Masa'il Al-Samarqandi, dan Kalimatay Al-Syahadah. Manuskrip-manuskrip ini merupakan teks dasar yang memuat doktrin ketuhanan serta menjadi fondasi utama ortodoksi teologi Asy'ariyah yang diajarkan secara turun-temurun di dunia pesantren Jawa dan Madura.
Klaster Linguistik dan Tata Bahasa Arab: Ditemukan kitab gramatika Arab standar seperti Matan Al-Ajurrumiyyah, Matan Al-'Izzi, Awamil Fi Al-Nahwi, dan Kitab Dhamir. Uniknya, manuskrip-manuskrip linguistik ini dilengkapi dengan syarah (penjelasan) shorof beraksara Pegon dengan pengantar bahasa Jawa kuno, yang menunjukkan metode pembelajaran bahasa yang sangat terstruktur pada zamannya.
Klaster Yurisprudensi dan Hukum Islam (Fikih): Di wilayah Lenteng, tim mengidentifikasi naskah besar seperti Minhaj al-Thalibin dan Fathul Karim. Keberadaan kitab-kitab ini menjadi bukti kuat mengenai dominasi mazhab Syafii yang mengakar dalam tata cara ibadah dan panduan hukum amaliah praktis masyarakat Madura masa lampau.
Klaster Esoterisme, Leksikografi, dan Spiritual: Korpus naskah juga memuat dokumen-dokumen yang lebih dekat dengan kehidupan spiritual keseharian masyarakat, seperti Kompilasi Naskah Doa-Doa, Kitab Primbon, serta sebuah Kamus Bahasa Arab-Jawa kuno yang berfungsi sebagai alat bantu penerjemahan antarabudaya.
Klaster Filologi Sastra Nusantara: Selain kitab agama murni, tim menemukan karya sastra lokal berupa Serat Yusuf dan Serat Kasmarandana. Naskah ini digubah dalam bentuk tembang Macapat, yang mencerminkan harmonisasi serta akulturasi yang indah antara nilai-nilai Islam dengan kebudayaan Jawa-Madura.
Penggunaan aksara Pegon berbahasa Jawa dalam naskah-naskah linguistik Arab dan sastra yang ditemukan di Madura ini mengindikasikan adanya dialektika budaya yang intens. Temuan ini menjadi bukti empiris adanya interkoneksi intelektual yang sangat kuat antara jaringan pesantren di pulau Madura dengan pusat-pusat keilmuan di tanah Jawa pada masa lampau.
Di samping penemuan korpus teks keilmuan dan sastra keagamaan, tim peneliti Universitas Annuqayah juga berhasil mengidentifikasi dan memverifikasi dokumen genealogi (silsilah) otentik dari para ulama Pasean. Hasil pelacakan silsilah fisik tersebut menunjukkan garis keturunan yang muttasil (bersambung secara sahih) hingga ke Rasulullah SAW. Penemuan ini memperkuat legitimasi historis penyebaran Islam di pesisir Madura.
“Pelestarian manuskrip kuno bukan sekadar bentuk romantisme atau nostalgia masa lalu. Langkah ini merupakan upaya nyata dalam rekonstruksi identitas, penyelamatan sejarah kebudayaan lokal, serta penyediaan basis data ilmiah yang valid bagi pembangunan peradaban Islam Nusantara di masa depan,” Pungkasnya.
Nuris (Pusat Studi Aswaja dan Naskah Pesantren)